Kali ini pakai Bahasa Indonesia aja, capek otaknya lagian saya Orang Indonesia tulen kok tidak bangga dengan bahasanya sendiri..

Berhubung sebentar lagi kita juga akan memeperingati Sumpah Pemuda, saya ingin berbagi unek-unek (ini klo di Inggris kan susah) saya tentang musik, satu “bahasa” yang bisa menyatukan seluruh perbedaan di seluruh dunia.

on ur mark…….

get set…….

Monggo..!

Jika kita mendengar kata musik, banyak hal yang akan terlintas di pikiran kita. Menurut KBBI musik adalah ilmu atau seni menyusun nada untuk menghasilkan suara yang mempunyai kesinambungan atau suatu bunyi terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar. Namun arti musik sebenarnya bukan hanya sebuah susunan nada ataupun bunyi yang kita tangkap lewat telinga kita, lebih dari itu, musik adalah ‘sahabat’ yang selalu menemani kita sepanjang hari, musik juga bisa berarti media untuk berkreasi, cara lain untuk menyampaikan pesan hingga sebuah mata pencaharian.

Apapun arti kata musik, kita tidak akan bisa mengelak bahwa musik ada dalam keseharian kita. Dan jika melihat perkembangan musik di Indonesia sekarang ini, telah menjadi sebuah industri kreatif yang semakin berkembang dan menjadi salah satu identitas bangsa kita [musik indonesia]. Jika musik memang identitas bangsa dan berada dalam keseharian kita kenapa kita tidak memakai musik sebagai alat/media untuk mencerdaskan bangsa kita?.

Saya akan mengajak untuk sedikit melihat kebelakang perkembangan musik kita di tanah air. Pada abad ke-15 penggunaan musik sudah menjadi cara tersendiri untuk menyampaikan pesan, Sunan Bonang seorang sunan yang melakukan penyebaran agama Islam di pulau jawa menciptakan tembang-tembang yang syarat dengan pesan dan ajaran agama Islam, karena lewat musik, ajaran yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh rakyat dan diresapi dengan baik. Hingga saat ini tembang ‘Tombo ati’ yang diciptakan oleh sunan Bonang masih dilantunkan oleh Opick. Dan jika kita melongok pada tahun 90-an kita akan menemukan beberapa musik yang masih membekas pada ingatan kita seperti duet Saskia dan Geofanny dengan Titiek Puspa yang mengajarkan kita betapa pentingnya menabung, Oppie Andaresta dan Trio Kwek-kwek yang mengajarkan kita untuk selalu ingat dengan pesan orang tua, Joshua Suherman yang memberikan manfaat dari penggunaan air hingga mengajak kita untuk tidak menebang hutan dan melindungi hewan-hewan yang di hutan kita.

Berbicara tentang musik dan lagu anak-anak Indonesia juga tidak akan lepas dari sosok Pak A.T. Mahmud. Pencipta lagu anak-anak dan juga mantan Tentara Pelajar ini menciptakan lebih dari 40 lagu anak-anak, seperti Lagu Pelangi, Anak Gembala, Amelia dan Ambilkan bulan bu yang masih melegenda di telinga kita. Kita juga memiliki sosok Sandiah dan Soerjono atau yang lebih kita kenal dengan Bu Kasur dan Pak Kasur, tokoh pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Kanak-kanak (TK) Mini. Lagu balonku, Dua mata saya, Selamat pagi bu guru dan Topi saya bundar adalah beberapa lagu yang diciptakan Pak Kasur. Semua lagi itu penuh dengan pesan pendidikan, pesan moral dan pembentukan karakter yang sangat dibutuhkan calon generasi penerus bangsa.

Tetapi sungguh sangat disayangkan, dibalik berkembangnya industri musik Indonesia terjadi sebuah kemerosotan moral, pendidikan dan budaya. Mengapa saya beranggapan seperti itu, kita  bisa melihat sendiri lewat layar televisi dimana setiap pagi hingga malam kita dihibur oleh acara musik yang sebenarnya sama sekali tidak memberikan pesan positif didalamnya hanya sekedar memanjakan telinga, tidak lebih dari itu. Contoh paling gampang, jika kita berada di persimpangan jalan dan mendengarkan seorang anak pengamen mendendangkan sebuah lagu, yang akan kita dengar adalah lagu-lagu yang bertemakan cinta, pengkhianatan, perselingkuhan, perpisahan bahkan hingga kekerasan dan pelecehan. Semua lagu itu diramu dan dikemas apik oleh nada-nada yang menarik dan mudah dihafalkan oleh seorang anak kecil. Lagu-lagu bertema itu semua dirasa terlalu ‘berat’ untuk dikonsumsi anak-anak Indonesia dan tidak mendidik bangsa kita. Dengan kondisi seperti ini, anak-anak Indonesia cenderung lebih ‘dewasa’ sebelum waktunya dikarenakan hebatnya pesan yang disampaikan lewat musik yang masuk ke otak mereka. Sudah tidak adanya penggolongan genre lagu berdasarkan usia dan dengan banyaknya lagu bertemakan cinta, apakah membuat bangsa kita jadi lebih cinta damai atau malah membuat bangsa kita menjadi ‘lebay’. Apa ini pantas untuk anak-anak kita?, Apa ini kondisi yang diinginkan bangsa kita?.

Sebenarnya masih banyak musisi yang masih berpegang teguh dengan prinsip-prinsip lama, yang selalu berusaha untuk mendidik bangsa, menyampaikan pesan positif, mengajak untuk berbuat baik dan mengkritisi isu-isu moral yang terjadi. Saya akan melihat seorang Bondan Prakoso, mantan penyanyi cilik di era 80-an yang telah merilis 8 album anak –anak dengan single hits-nya ‘Si Lumba-Lumba’ yang hingga hari ini masih bisa kita dengar di Gelanggang Samudra Ancol atau menjadi lagu pengiring seorang ibu ketika menyuapi anaknya makan. Tidak berhenti sampai disitu, dedikasinya terhadap musik merubah dia menjadi seorang bassist dari group alternative yang menyabet 2 penghargaan AMI Award pada awal tahun 2000 dan beberapa tahun terakhir dia berhasil meraih penghargaan musik tertinggi Indonesia ketiga kalinya bersama group rap yang dipimpinnya. 

Dedikasi tinggi terhadap musik Indonesia dan karya yang berkualitas yang memberikan pesan positif dan mendidik untuk jadi lebih baik adalah salah satu cara untuk mencerdaskan bangsa kita lewat musik. Musik yang bisa membekas di ingatan kita, bukan musik yang datang dan pergi di ingatan kita. Musik yang bisa mempengaruhi kita untuk membuat hidup kita jadi lebih baik, bukan musik yang menyesatkan kita sehingga semakin terpuruk. Bukan hal yang tidak mungkin karena lewat musik kita bisa mempersatukan dan mencerdaskan suatu bangsa.

 Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda, bukan hanya di ucapan dan tulisan tapi esensi yang terkandung dari sumpah pemuda ini lah yang harus kita pertahankan..